Denda 28 Triliun, Karena Menyuap Dokter
Selamat malam Guy's...malam ini 4/7/2012 suhu jogjakarta tercatat 19C mungkin nanti tengah malam sampai 17C bbbrrrr.....dingiinn....nah pas dingin begini males banget kan mau keluar kamar walaupun perut udha minta makan malem hhhmm...daripada tidak produktif hanya bermalas-malasan lebih baik Blog Walking niih...(istilah dalam dunia blogger mengunjungi blog sahabat di seluruh dunia) yaahh...lumanyan kan buat tambah ilmu pengetahuan dan bisa sharing ke temen-temen semua kan jadi manfaat hehee...ada satu tulisan yang langsung saya cermati tulisan ini awalnya dari newsweb onlineathens ternyata sudah diterjemahkan oleh wartawan detikhealth tentang perusahaan farmasi asing yang cukup terkenal dikenai denda 28 Triliun Rupiah atau 28.000 juta ckckck...memang ada apa siih...yook lanjutin bacanya sampe selesai Okee.
GlaxoSmithKline (GSK), perusahaan farmasi internasional dituntut membayar denda sebesar USD 3 miliar atau sekitar Rp 28 triliun karena menyuap dokter. Aksi penyuapan ini dilakukan untuk meningkatkan penjualan obat antidepresan Paxil dan Wellbutrin serta obat asma Advair. Selain itu, GSK juga tidak melaporkan masalah keamanan terkait dengan obat diabetes Avandia. Keputusan ini ditetapkan oleh pengadilan distrik Boston pada hari Kamis (26/6/2012) lalu. Perusahaan ini mendorong tenaga penjualan di AS untuk menjual 3 jenis obat tersebut ke dokter dan memberikan suap pada dokter yang bersedia menuliskan resep. Para dokter diberi upah USD 2.500 atau sekitar Rp 23,3 juta jika mau hadir sebagai pembicara dan memberikan presentasi mengenai 3 obat tersebut. Selain itu, para dokter bisa menikmati diving, golf, memancing dan kegiatan lainnya yang kesemuanya diatur oleh perusahaan.GSK juga membayar agar artikel obatnya bisa muncul dalam jurnal medis. Perusahaan membayar dokter-dokter 'independen' yang disewa oleh perusahaan untuk mempromosikan obat bagi perawatan pasien. GSK pernah menyelenggarakan 8 acara mewah selama 3 hari pada tahun 2000 dan 2001 di hotel di Puerto Rico, Hawaii dan Palm Springs, California, untuk mempromosikan obatnya ke dokter agar disetujui penggunaannya. Kesemua biaya perjalanan dan menginap ditanggung perusahaan."Tenaga penjualan menyuap dokter untuk meresepkan produk GSK menggunakan setiap bentuk hiburan mahal, mulai dari liburan di Hawaii, membayar jutaan dolar agar dokter mau menjadi pembicara dalam tur, hingga tiket konser pertunjukan Madonna," kata Jaksa Carmin Ortiz seperti dilansir The Guardian, Rabu (4/7/2012).Jaksa mengatakan bahwa perusahaan membayar uang sejumlah USD 275.000 atau sekitar Rp 2,57 miliar kepada Dr Drew Pinsky yang menjadi pemandu acara radio populer agar mau mempromosikan Wellbutrin dalam acaranya. GSK mengklaim obatnya bisa mengatasi berat badan, disfungsi seksual, ADHD dan bulimia. Pinsky kemudian mengatakan kepada pendengarnya bahwa Wellbutrin bisa membuat wanita mengalami orgasme 60 kali dalam semalam. Sebuah perusahaan public relation yang disewa oleh GSK melakukan penelitian terhadap 25 orang yang menggunakan obat Wellbutrin selama 8 minggu. Hasilnya menggembar-gemborkan kemampuan obat ini lebih ampuh dibanding Viagra. Bahkan obat ini disebut-sebut dapat membantu berhenti merokok dan menurunkan berat badan.Salah satu dokter yang didanai oleh GSK, Dr James Pradko, dibayar hampir USD 1,5 juta atau sekitar Rp 14 miliar selama 3 tahun untuk berbicara mengenai obat keluaran GSK. Ia juga mengeluarkan DVD yang didanai oleh perusahaan, namun diklaim dibuat secara independen. Sekitar USD 600.000 atau Rp 5,6 miliar dalam setahun dialokasikan oleh bagian penjualan untuk membiayai hiburan, termasuk pelajaran golf biasa, balap Nascar, perjalanan memancing, baseball dan tiket basket. Hasil investigasi mengungkap bahwa bagian penjualan menamakan operasi ini dengan operasi 'Hustle'.Obat antidepresan Paxil sebenarnya hanya disetujui untuk orang dewasa, namun dipromosikan oleh perusahaan bahwa penggunaannya aman untuk anak-anak dan remaja meskipun uji coba menunjukkan khasiatnya tidak efektif. Akibatnya, anak-anak dan remaja ini mengalami efek samping berupa peningkatan risiko bunuh diri. Obat asma yang diproduksi GSK bernama Advair juga dituding ikut dipromosikan. Perusahaan mendorong dokter agar meresepkan obat ini untuk semua kasus asma. Padahal, obat ini hanya disetujui untuk mengobati kasus yang parah, ada obat lain yang lebih cocok untuk mengobati asma ringan.Selain itu, ketika ada seorang dokter yang didanai GSK menolak mencabut artikelnya mengenai masalah keamanan Wellbutrin, GSK segera menyetop aliran dananya. "Saat ini merupakan zaman yang berbeda bagi perusahaan kami dan hal itu tidak dapat diabaikan. Atas nama GlaxoSmithKline, saya ingin menyatakan penyesalan kami dan menegaskan kembali bahwa kami telah belajar dari kesalahan yang kami buat," kata Andrew Witty, CEO GSK.Meskipun demikian, denda yang dibebankan kepada GSK masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari penjualan obat. Avandia kabarnya menghasilkan keuntungan sebesar USD 10.4 miliar atau sekitar Rp 97 triliun, Paxil meraup keuntungan USD 11.6 miliar atau sekitar Rp 108 triliun dan Wellbutrin mendapat USD 5,9 miliar atau sekitar Rp 55,1 triliun semenjak mulai dipromosikan.
di luar negeri sono noohh perusahaan farmasi yang ketahuan melakukan praktek promosi obat langsung kepada dokter dengan iming-iming seperti disebut diatas diberikan denda sampai Triliunan,..nah disini kok praktek promosi seperti itu seakan-akan dibiarkan saja alias jalannya mulus untuk perusahaan farmasi nasional maupun asing,
A : lalu apa sih dampaknya kalau dibiarkan seperti ini terus...kan dokter sudah tahu harus meresepkan apa untuk setiap diagnosisnya..tanya teman dari keilmuan sosial
B : begini prend...kalau setiap pasien yang datang ke dokter promosi itu diresepkan obat-obat'nya GSK karena memang ada diagnosisnya dan terukur secara akurat, serta si pasien termasuk golongan ekonomi atas hal itu tidak masalah...tapi kalau tidak ada gejalanya dan tetap diresepkan obat-obat'an GSK lalu ternyata si pasien adalah orang dengan golongan ekonomi menegah ke bawah, bagaimana menebus obatnya ? padahal ada obat generik yang memiliki zat aktif yang sama dengan obat-obat'an bermerk dan harganya lebih murah.
A : kenapa bisa murah ? lanjut pertanyaan si teman..
B : karena komponen harga dalam obat generik tidak ada komponen iklan, marketing pemasaran, promosi ke dokter yang membuat harga obat lebih mahal berkali-kali lipat daripada harga obat yang seharusnya.
A. OOoo...begitu too...
B : lagian kebijakan obat generik ini adalah agar keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap obat lebih tinggi dari tahun ke tahun sehingga pemerataan kesehatan di seluruh indonesia bisa cepat tercapai begiituu broo..
Etika Promosi Obat dan kesepakatan bersama antara GP Farmasi Indonesia dengan Ikatan Dokter Indonesia adalah: Seorang dokter dalam melakukan pekerjaan kedokterannya tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Kaitannya dengan promosi obat adalah dokter dilarang menjuruskan pasien untuk membeli obat tertentu karena dokter yang bersangkutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi tertentu.Perusahaan farmasi dilarang memberikan honorarium dan atau uang saku kepada seorang dokter untuk menghadiri pendidikan kedokteran berkelanjutan, kecuali dokter tersebut berkedudukan sebagai pembicara atau menjadi moderator.
Obat bukanlah komoditas dagang yang biasa karena dalam suatu obat juga terkandung komponen sosial, Obat dan perbekalan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sosial, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata, juga tidak dipromosikan secara berlebihan dan menyesatkan (Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP)
Aji Wibowo,S.Farm.,Apt
Semoga Bermanfaat Wallahu a’lam bishshawab
Sumber : detikhealth.com, website Ikatan Apoteker Indonesia, website Ikatan Dokter Indonesia, onlineathens.com, Globalpost
Berikan Apresiasi anda jika coretan ini bermanfaat dengan klik like fanpage Blog ini klik Dunia Farmasi atau klik Tombol Like pada kotak Facebook Fanpage dibawah coretan ini, Terimakasih
kami mengharapkan kritik dan saran anda dengan memberikan komentar dibawah coretan ini

makanya banyak dokter yang cepet kaya, ternyata caranya begini too...jadi ada variable "duit" yang mempengaruhi peresepan si dokter ya..hhhmm..anyway thanks infonya bang
ReplyDeletewahh..kalau itu saya tidak bisa men-judge secara pribadi, tetapi "kong-kali-kong" antara dokter dan perusahaan farmasi sudah menjadi rahasia umum dan itu lah bisnis abu-abu du dunia kesehatan, walaupun sudha ada aturan etika dari organisasinya, semoga kita bisa lebih bijak menanggapinya...terimakasih atas komentarnya mas..
ReplyDelete